Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Terbit Dan Tenggelamnya Sistem Perkonomian Dalam Genggaman Pemudanya


Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi) Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakan salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.dan tentulah masa muda ini meruapakan masa dimana setiap anggota tubuh bekerja maksimal dalam menopang setiap kegiatan yang kita lakukan,dimasa ini lah goresan-goresan tinta emas ataupun tinta hitam begitu muda tertuang dalam sejarah kehidupan manusia,jikalau para pemuda ini berniat menuliskan tinta emas dalam kehidupan ini,mereka pun senantiasa mengeluarkan segala kemampuannya baik dalam segi fisik maupun bathinnya,semakin besar keinginan pemuda ini maka akan semakin besar usaha yang akan ia lakukan untuk mencapai tujuan yang ia targetkan,saat kita melihat kezaman para sahabat ,dimana para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum- memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.


             Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, dan menyampaikannya kepada ummat sebagai  warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, dan masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini dan akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.
            Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu untuk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka khabar gembira dari Nabi mereka -Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”.

            Begitu ironinya melihat perbandingan para pemuda dizaman sekarang  dengan para pemuda dizaman Rasululllah Shallallahu alaihi wa sallam,disaat para pemuda dizaman Rasulullah begitu bergairah dengan semangat yang meluap-luap untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,namun dizaman sekarang ini para pemuda seakan-akan berlombda dalam keburukan,para pemuda dizaman ini terlalu focus dalam mengejar tujuan dunianya untuk memuaskan raga dirinya secara individual tanpa mempertimbangkan kepentingan maslahat untuk orang lain,berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan masing-masing dan manfaat masing-masing dengan mengesamping kepentingan umum,atas dasar ini lah begitu banyak ketimpangan social diantara kehidupan bermasyarakat,hal ini bisa saja dikarenakan karena para pemuda dizaman ini tidak begitu peka,produktivitas jasa dan perekenomian yang diberikan pada masyarakat begitu minim,
Peran dan partisipasi mereka dalam pembangunan pun, terutama yang berkaitan dengan kewirausahaan dan tenaga kerjaan, relatif masih belum menggembirakan.

             Demikian pula kualitas pemuda dalam pendidikan. Data Susenas 2008 menunjukkan, sekitar 1,27% jumlah pemuda belum/tidak pernah sekolah; 17,34% masih/sedang bersekolah; dan 81,40% sudah tidak bersekolah lagi,dalam data yang disusun DR.H Marzuki Ali,beliau mengatakan “Penyalahgunaan obat-obatan psikotropika dan narkotika, premanisme, serta minimnya sarana dan prasarana kepemudaan dalam beraktifitas merupakan faktor yang turut memperbesar masalah kepemudaan. Dalam kategori Iptek, tantangan pemuda masa depan adalah meningkatkan penguasaannya sekaligus menekan ekses negatif dari kemajuan Iptek. Ekses negatif muncul dalam beragam bentuk, mulai dari penyalahgunaan dalam produksi atau konsumsi pornografi sampai kejahatan yang dilakukan dengan memanfaatkan teknologi, pembajakan kartu kredit, penyebarluasan informasi yang destruktif, peningkatan potensi terorisme, kekerasan, dan sebagainya.


            Masalah berikutnya adalah tingginya tingkat pengangguran terbuka. Menurut data Survei Tenaga Kerja Nasional (Sakernas) 2008, tingkat pengangguran terbuka dari golongan pemuda lebih condong di perkotaan dibandingkan di perdesaan, yaitu 20,75% dibandingkan 15,3%. Penyebab ketimpangan angka pengangguran ini, karena lapangan kerja yang tersedia tidak sesuai dengan kondisi tenaga kerja yang ditawarkan, serta kompetensi dan kualifikasi pencari kerja dengan kebutuhan pasar kerja, tidak sesuai.

Persoalan wawasan kebangsaan, bela negara, cinta tanah air merupakan faktor yang tidak kalah penting. Munculnya orientasi yang berlebihan kepada kegiatan-kegiatan politik praktis seputar kekuasaan juga menjadi masalah bagi pemuda.Akibat orientasi ini, pemuda menjadi lemah dalam mempelopori kegiatan-kegiatan di bidang keswadayaan dan kesukarelawanan, penumbuhan modal sosial dan pekerja sosial, penumbuhan kreasi seni, budaya, ekonomi kreatif, serta olahraga”

            Keadaan seperti ini tidaklah begitu jauh dengan keadaan pemuda yang menyebabkan hancurnya Andalusia, Seperti yang diceritakan oleh Dr.Raghib As-Sirjani  Diantara sebab runtuhnya kejayaan islam diandalusia adalah ,”Tenggelam dalam kemewahan, cenderung pada kesenangan nafsu duniawi, dan bergelimang dalam kenikmatan-kenikmatan sementara. Inilah faktor utama yang mengantarkan kekuasaan Islam pada akhir yang sangat menyakitkan. Masa-masa keterpurukan dan kejatuhan sering terkait dengan banyaknya harta, tenggelam dalam kesenangan-kesenangan, rusaknya generasi muda, dan peyimpangan besar pada tujuan…” Mereka yang bergelimang dalam kehidupan yang gemerlap dan terjerembab dengan gaya hidup yang mewah, hatinya akan mudah dilalaikan dari mengingat Allah, semangat juangnya akan semakin melemah, dan jiwanya menjadi pengecut. Karena itu, ahli hikmah mengatakan, “Keberanian tidak akan didapati pada orang yang mencintai dunia!” Dunia memang melalaikan dan membuat para pemujanya menjadi alpa.
            Harga diri dan gengsi diukur dengan penampilan yang parlente dan dandy, banyaknya uang, barang-barang yang mewah, dan harta yang berharga. Sehingga jika semua itu tak ada, maka orang yang mencintai dunia merasa hidupnya tak berharga dan bergengsi. Harga dirinya tak melambung tinggi, dan lobi-lobi kekuasaanya tak dihargai. Identitas Islam yang seharunya menjadi ‘pakaian’ yang menutup rapat tubuhnya berganti menjadi benda-benda yang melambangkan kemewahan. Penyakit al-wahn; Cinta dunia dan benci mati (hubbud dunya wa karahiyatul maut) menjadi penyakit ganas yang bisa melumpuhkan kekuatan umat Islam.

            Jika para pemuda Muslim terus seperti ini,tentulah sejarah hancurnya negeri Andalusia,yang bgitu megah dan indah akan kembali terulang,dimana para pemuda terlalu sibuk dengnan kesenangan dunianya,mulai dari akhlak,moral dan sitem perekonomian,merupakan beberapa hal yang harus diubah pemuda saat ini,jiakalu akhlak para pemuda ini baik maka kemuliaan akan ia dapat kan disisi tuhanNya,dan tentulah masyarakat pun akan begitu respek dengan setiap pergerakan yang ia lakukan,jikala moral pemuda itu baik maka tidak akan adalagi penyelewengan amanah yang senantiasa dibebankan kepada para pemuda yang dianggap punya kapabilitas dalam mengelolah amanah yang diberikan,dan jika para pemuda mampu mengontrol system perekonomian ini menjadi lebih baik lagi,tentu kehidupan masyarakat setidaknya akan semakin baik,saat para pemuda ini mempunyai keinginan kuat dalam mengubah system ekonomi yang saat ini sedang terjadi,dimana begiti besar kesenjangan social antara si miskin dengan sikaya,maka tentu mereka mampu mengubahnya,mengubahnya kealur yang lebih baik,menggantikan system kapitalis,dan system-sistem convensional lainnya dengan system perekeonomian syariah yang mengedepankan kesejahteraan seluruh ummat manusia,telah jelas bagi kita betapa besarnya peran para pemuda ini jikalau mereka ingin bergerak lebih produktif lagi,menjadi pemuda yang senantiasa membuka lapangan kerja bagi masyarakat,para pemuda lah yang seharusnya bertindak menjadi insane yang jauh lebih produktif,kemampuan mereka dalam segi fisik dan skill adalah kelebihan social yang dilimpahkan tuhan kepada para pemuda,dengan kelebihan fisik dan skill inilah telah jelas bagaimana Allah subhanawata’ala mengajarkan kita untuk lebih produktif lagi sebagai sang penggerak dunia,disegala sisi.
             Seorang Ilmuwan Amerika bernama David McClelland, “pernah menjelaskan bahwa suatu negara disebut makmur jika mempunyai jumlah wirausahawan minimal 2% dari jumlah penduduknya. Namun, saat ini jumlah pengusaha Indonesia hanya 0,24% dari jumlah penduduk. Jika jumlah penduduk Indonesia sekitar 240 juta, maka negeri ini membutuhkan setidaknya 4,2 juta pengusaha untuk mencapai minimal 2% jumlah usahawan”, jika sebagian besar pemuda menjadi wirausahawan tentu perekonomian akan dikontrol oleh para pemuda itu,mereka akan menjadi kunci perekonomian.

            Oleh karena itulah peran kita sebagai pemuda haruslah jauh lebih ditekankan,skill dan kelebihan fisik yang diberikan Allah kepada mereka haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya,dengan menciptakan perubahan untuk kemaslahatan ummat,menjadi agen perubahan,perubahan yang mengarah ke arah yang jauh lebih baik lagi,dimana perubahan itu semakin mendekatkan kita kepada Allah Subhnawataa’ala,ingatlah ketika situasi dunia ini semakin kacau maka jangan kacaukan ini dengan keputus asaan kita,ingatlah saat Sultan muhmmaf fatih menaklukan konstantinopel,bagaim#ana yakinnya ia menaklukan pasukan yang memiliki kuantitas jauh lebih banyak,dan ingatlah pula betapa gigihnya Abdurrahman bin auf berusaha mencari nafkah sendiri hingga ia mampu mengontrol perekonomian dizaman itu,beliau menjadi pemuda yang penuh akan aksi dan perjuangan.Jikalau bukan kita yang mengambil alih gerakan perubahan system ekonomi ini siapa lagi ? Saatnya pemuda yang bekerja,memperbaiki system ini ! dan menjadi otak dari penggerakan ekonomi syariah dan gerakan-gerakan positif lainnya!.


 Penulis Ahmad Fajrin Shadiq

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar